Benih Perkebunan

Permintaan Pinang Meningkat, Bagaimana Prospek Pembibitan Pinang?

 

Saat ini kebutuhan pinang global mengalami peningkatan. Harga pinang kering bisa mencapai 35.000/kg. Kondisi demikian menjadikan banyak pekebun yang berbondong-bondong menanam pinang.

Tingginya animo masyarakat juga turut mendongkrat pembelian bibit pinang. Berdasarkan informasi penangkar di Jambi, Riau, Aceh dan Sumatera Barat terdapat peningkatan signifikat pembelian bibit secara swadaya. Sementara itu pengadaan bibit oleh pemerintah juga turut meningkat. Apalagi pasca kunjungan Presiden Jokowi ke Jambi (7/4/2022), akan didorong pengembangan pinang secara besar-besaran.

Kondisi demikian membuka peluang bagi usaha pembibitan pinang. Baik untuk memenuhi pasar petani atau pemerintah. Belum lagi di sejumlah daerah seperti Jambi, banyak petani karet yang beralih ke pinang. Selain itu petani kelapa sawit juga mengelola pinang untuk memanfaatkan lahan-lahan yang tidak bisa ditangani kelapa sawit.

Untuk ketersediaan varietas unggul, Indonesia memiliki Pinang Betara, benih bina yang berasal dari Tanjung Jabung Barat, Jambi. Keunggulan pinang ini adalah ukuran buahnya besar. Bayangkan saja, 1 kg saja hanya terdapat 18 – 25 butir. Semetara itu 1 tandan bisa dihasilkan 150 butir dan 1 tahun produksinya 5 – 6 tandan perpohon. Juga terdapat unggul lokal yang berada di Sumatera Barat dan Aceh.

Dalam hal memulai bisnis pembibitan penting bagi calon penangkar mengindentifikasi pasar dan menggunakan benih dari asal kebun induk resmi. Sebelum menjalankan usaha sebaiknya mendapatkan izin usaha produksi benih.