Benih Perkebunan

Studi Kelayakan Lahan, Penting Dilakukan Sebelum Tanam Benih Kelapa Sawit


Pembukaan lahan jadi faktor penting dalam program peremajaan sawit rakyat

Ketika lahan untuk pembudidayaan kelapa sawit telah ditentukan, bukan berarti pekebun dapat serta-merta langsung menanam benih tanaman itu begitu saja pada lahan tersebut. Ada tahapan yang tak kalah pentingnya untuk dilakukan sebelum lahan yang dimaksud bisa digunakan untuk penanaman, yaitu studi kelayakan.

Mengacu pada Pedoman Budidaya Kelapa Sawit yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 131 Tahun 2013, studi kelayakan ini harus membahas perencanaan luas kebun yang akan dibangun serta tata ruangnya. Luas satu kebun biasanya disesuaikan dengan kapasitas pabrik yang akan dibangun.

Suatu unit pabrik berkapasitas 30 ton TBS/jam, dipasok oleh tanaman kelapa sawit yang luasnya 5.000-6.000 hektare (ha), sedangkan yang berkapasitas 60 ton TBS/jam membutuhkan areal seluas 10.000-12.000 ha. Satu kebun dibagi dalam beberapa afdeling yang luasnya berkisar 600-800 ha/afdeling, tergantung kondisi areal.

Jadwal atau perencanaan ini disusun beberapa bulan sebelum dimulai pembukaan lahan. Salah satu perencanaan bisa berkaitan dengan masalah pemesanan kecambah yang dilakukan 3-6 bulan sebelum pembenihan dilakukan, tahap pembenihan yang dilakukan paling lambat 1 tahun sebelum penanaman di lapangan, pemesanan alat-alat berat, instalasi penyiraman, pencarian tenaga kerja, dan sejumlah poin penting lainnya. (SR)