Benih Perkebunan

Rifqi Kusuma Kafaillah, Penangkar Pinang di Riau

Buah pinang jadi salah satu komiditi sektor perkebunan yang punya nilai ekspor menggiurkan. Seperti yang diungkapkan Rifqi Kusuma Kafaillah, Penangkar Pinang asal Riau.

Menurutnya, kebutuhan buah pinang cukup tinggi baik di dalam maupun luar negeri.

Di Provinsi Riau sendiri pengembangan kebun pinang menjanjikan potensi jika kembangkan secara luas, sama halnya yang terdapat di Pulau Sumatra, yang disebut-sebut memiliki perkebunan pinang paling luas walaupun masih di kelola secara perorangan.

Komoditi pinang juga punya keunggulan lain, seperti pengolahan hasil panen pinang relatif lebih mudah jika dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya. Bahkan dari segi nilai, pinang juga lebih ekonomis dan cenderung stabil.

"Dalam melaksanakan perkebunan pinang juga bisa dilaksanakan di lahan terbatas. Ini karena jarak tanam 2,7 x 2,7 meter, sehingga populasi bibit dalam penanam bisa relatif banyak," jelas Rifqi Kusuma Kafaillah dalam wawancara (30/4).

"Saya memilih menjadi produsen pinang khususnya varietas betara karena pinang varietas betara merupakan varietas unggul nasional," sambungnya.

Rifqi Kusuma Kafaillah yang sebelumnya berprofesi sebagai kontraktor listrik juga menuturan persediaan benih pinang pada awal 2021 sudah mencapai 40.000 benih dan diperkirakan akan bertambah di pertengahan 2021.

Benih tersebut telah umumnya disaluran ke masyarakat umum di beberapa kabupaten di Riau seperti Lai Kampar, Rohil, Dumai, Meranti, Inhil dan di Provinsi Sumatra Barat seperti Payakumbuh. (AD)