Benih Perkebunan

Hadapi Ancaman Ganoderma Pasca Replanting, Socfindo Pasarkan Varietas Unggul MTG

PT Socfin Indonesia (Socfindo) berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas benih kelapa sawit produksinya demi memenuhi kebutuhan kelapa sawit dalam negeri dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Hal ini, sejalan dengan upaya pemerintah yang berkeinginan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit dalam negeri melalui peningkatan produktivitas tanpa harus melakukan ekstensifikasi atau perluasan lahan tanaman sawit.

“Kita lebih kepada meningkatkan kualitas karena ke depan pasti pasar ini lebih banyak ke replanting [peremajaan]. Jadi, [menghasilkan benih dengan] produksi tinggi dan tahan penyakit. Perluasan areal sudah tidak mungkin, pemerintah juga inginnya intensifikasi,” ujar Head of Socfindo Seed Production & Labs (SSPL) Indra Syahputra, MP,  Kamis (15/1/2021).

Saat ini, salah satu benih unggulan berkualitas produksi Socfindo adalah MTG. MTG merupakan benih kelapa sawit yang diklaim memiliki ketahanan moderat terhadap serangan Ganoderma.

Ganoderma adalah jamur patogen yang menyebabkan penyakit busuk pada pangkal batang tanaman kelapa sawit. Saat ini, Ganoderma menjadi momok bagi budidaya kelapa sawit di Indonesia dan juga negara lain seperti Malaysia dan Afrika. Kondisi ini diperparah dengan belum adanya penawar atau fungisida yang bisa meredakan serangannya secara efektif.

Indra menyebutkan, Socfindo menjadi perusahaan pertama yang merilis dan mengenalkan benih MTG pada pelaku bisnis kelapa sawit baik perusahaan maupun petani sawit di Indonesia. Perusahaan ini telah memproduksi MTG sejak 2013. Adapun produksi MTG dalam negeri saat ini mencapai 10 juta benih per tahun dan diproduksi oleh 5 perusahaan produsen benih termasuk Socfindo.

Selain untuk kebutuhan replanting mandiri di perusahaan atau petani kelapa sawit, pihaknya berharap MTG juga bisa digunakan dalam program peremajaan sawit rakyat (PSR) karena kemampuannya menjawab salah satu tantangan terbesar di sektor budidaya kelapa sawit, yakni Ganoderma.

Dengan demikian, petani bisa terhindar dari masalah busuk pangkal batang tanaman kelapa sawit yang berpotensi mengakibatkan kerugian sehingga pelestarian kelapa sawit berkelanjutan bisa tercapai.

Kendati demikian, dia memahami bahwa produksi MTG dalam negeri saat ini masih jauh dari kebutuhan PSR seluas 180.000 hektar per tahun yang mencapai 36 juta benih.

“Sebetulnya, kalau pemerintah mau pakai yang tahan Ganoderma untuk replanting, bagus sekali. Namun, saya juga sadar itu sulit karena kapasitas MTG kita baru 10 juta. Kalaupun dipakai itu kurang,” ujarnya.

Selain MTG, Socfindo juga mengembangkan dua varietas benih unggulan lain yakni Lame dan Yangambi. Kedua varietas ini disebut bisa menghasilkan produktivitas yang tinggi. Khusus untuk Lame, Indra mengatakan bahwa varietas ini adaptif terhadap kekeringan dan dari segi pertumbuhan tidak cepat meninggi.

Mengutip dari Peraturan Menteri Pertanian No.18/2016 tentang Pedoman Peremajaan Perkebunan Kelapa Sawit, efektivitas panen cenderung rendah pada tanaman sawit dengan ketinggian melebihi 12 meter.

Kendati telah menghasilkan benih unggul dengan kualitas tinggi, Socfindo senantiasa melakukan inovasi sehingga kualitas dari varietas benih yang sudah ada bisa terus diperbaharui dan semakin baik.

“Walaupun dia sudah lama, tetapi kita update terus materialnya sesuai hasil kebun percobaan kita terbaru,” tambah Indra.

Disamping benih yang sudah ada, Socfindo juga terus aktif menggali potensi varietas baru. Saat ini, perusahaan tengah mencoba mengembangkan varietas benih material baru. Salah satunya adalah varietas dengan material low lipase atau kadar enzim lipase rendah.

Kandungan enzim lipase yang rendah akan menghasilkan asam lemak (fatty acid) yang rendah pula. Dengan demikian, pemanfaatan varietas ini diharapkan bisa mengurangi pusingan panen yang pada akhirnya akan mengurangi biaya yang dibutuhkan untuk proses pemanenan.

“Untuk daerah Kalimantan atau Papua yang tenaga panennya kurang, varietas ini sangat bagus,” katanya.

Adapun, pengembangan varietas ini sudah dalam tahap screening material dan rencananya akan segera dilepas ke pasar dalam waktu dekat.

Selain itu, Socfindo juga berencana untuk memproduksi tiga varietas lain yakni varietas yang diharapkan akan efisien dari segi pemanfaatan pupuk, varietas compact yang bisa ditanam hingga 165 pokok per hektar (ha), dan supermale yang merupakan jawaban bagi kondisi fruit set yang jelek.

Fruit set merupakan perbandingan antara jumlah buah yang berkembang dengan baik dibandingkan total seluruh buah yang ada pada satu tandan buah kelapa kelapa sawit.